Showing posts with label Militer. Show all posts
Showing posts with label Militer. Show all posts

Daftar Belanja Militer Kemenhan Tahun 2012

Kemenhan menyiapkan Rp150 triliun untuk belanja lima tahun ke depan.

Eko Huda S, Nur Eka Sukmawati
Latihan Kesenjataan Terpadu (ANTARA/Seno S)
 
 
Kementerian Pertahanan memiliki dana sebesar Rp150 triliun untuk belanja dalam lima tahun ke depan. Dana itu akan dialokasi untuk tiga pos penting, terutama terkait dengan peremajaan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista).

"Yang harus dipahami, anggaran dalam pembelian alutsista itu multi years dengan melalui proses yang panjang dan bertahap," ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro di Gedung Kemhan, Jakarta, Senin 16 Januari 2012.

Anggaran tersebut digunakan untuk tiga hal, antara lain Rp50 triliun dana on top untuk percepatan Minimum Essential Force (MEF), Rp55 triliun untuk alutsista, dan Rp45 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan. Sebagian dana itu, akan digunakan berbelanja pada tahun 2012 ini.
Berikut daftar belanja TNI untuk tahun 2012 itu:

1. TNI Angkatan Darat (TNI AD): Main Battle Tank, senjata anti altileri berupa roket, multiple launcher rocket system, dan meriam armed dengan fokus meriam kaliber 150 mm.

TNI AD juga berencana membeli senjata artileri pertahanan udara yang difokuskan pada peluru kendali dan helikopter yang difokuskan pada helikopter serbu dan serang, serta Panser yang akan dibuat oleh PT Pindad.

2. TNI Angkatan Udara (TNI AU): Senjata anti pesawat udara, pesawat tempur F16, helikopter Cougar 735 sejenis Super Puma, dan Hercules sebanyak empat unit dari Australia.

3. TNI Angkatan Laut (TNI AL): Sea Rider, Fastboat Patrol, Kapal Perusak, Hidro Oceanic, Kapal Latih untuk pengganti KRI dewarutji. Selain itu, ada juga kapal-kapal administrasi, seperti kapal angkutan tank dan minyak, serta kapal selam.

"Kami berharap pada semester pertama 2012 ini bisa menyelesaikan beberapa kontrak khususnya terkait alat utama sistem persenjataan," ungkap Dirjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertahanan, Marsekal Muda Bogas Silaen. (umi)

• VIVAnews 
 http://nasional.vivanews.com

Menhan: Kekuatan Militer RI Sudah Khawatirkan Negara Lain

Laurencius Simanjuntak - detikNews


Penguatan pertahanan negara lewat peningkatan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) terus dilakukan pemerintah. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahkan kekuatan militer Indonesia sudah banyak membuat khawatir banyak negara.

"Saya buka saja, kita sudah banyak mengkhawatirkan negara lain," kata Menhan saat silaturahmi dengan pemimpin redaksi media massa di Gedung Jenderal TNI M Yusuf, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/1/2012).

Menhan mengatakan kekhawatiran negara lain itu tidak pas. Sebab, sama seperti China, RI membangun kekuatan militer karena pertumbuhan ekonomi dan pembangunan teknologi yang semakin membaik.

"Pembangunan kesejahteraan dan selalu diikuti dengan pembangunan keamanan," kata Menhan.

Dia menegaskan pengadaan alutsista yang terus dilakukan pemerintah saat ini adalah bukan untuk menyerang negara lain. "Bukan untuk offense, tapi defense. Menjaga kedaulatan kita," ujarnya.

Penjagaan kedaulatan itu, kata Menhan, bisa dilihat saat pesawat Sukhoi TNI AU menghimpit pesawat Wakil Perdana Menteri Papua Nugini. Hal itu dilakukan karena memang pesawat negara tetangga itu tidak mempunyai clearance.

"Kalau saya di lapangan, tidak ada clearance, ya saya perintahkan untuk terbang," ujarnya.

Menhan memaparkan, di darat TNI AD sudah memiliki batalyon infantri terbesar se-ASEAN, yakni 100 batalyon lebih. Di laut, TNI AL memiliki frigad, dan di udara TNI AU akan memiliki dua skuadron Sukhoi.

Kementerian Pertahanan selama tahun 2009-2014 memiliki anggaran Rp 150 triliun untuk pengadaan alutsista. Rinciannya, Rp 50 triliun untuk pengadaan, Rp 45 triliun untuk perawatan, dan Rp 50 triliun untuk produksi dalam negeri.

http://www.detiknews.com

Kopassus, Pasukan Elite No. 3 di Dunia Dan Sejarahnya

Discovery Channel Military edisi Tahun 2008 pernah membahas tentang pasukan khusus terbaik di dunia (TOP ELITE SPECIAL FORCES IN THE WORLD). Seluruh pasukan khusus didunia dinilai kinerjanya dengan parameter menurut pendapat dari berbagai pengamat bidang militer dan ahli sejarah. Posisi pertama di tempati SAS (Inggris), peringkat kedua MOSSAD (ISRAEL) lalu peringkat ketiga adalah KOPASSUS (Indonesia).

Narator dari Discovery Channel Military menjelaskan mengapa pasukan khusus dari amerika tidak masuk peringkat terhormat. Itu karena mereka terlalu bergantung pada peralatan yang mengusung teknologi super canggih, akurat dan serba digital. Pasukan khusus yang hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal kemampuan individu. Termasuk didalamnya kemampuan bela diri, bertahan hidup, kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap, dan lain2nya. Kemampuan yang tidak terlalu mengandalkan teknologi canggih dan Skill di atas rata-rata pasukan luar Elit luar negeri lainnya menjadi nilai plus dari KOPASSUS.Itu pula yang menimbulkan anggapan 1 prajurit KOPASSUS setara dengan 5 prajurit reguler.

Mungkin karena itu pula kenapa sekitar Tahun 90-an Amerika Serikat keberatan dan Australia ketakutan ketika Indonesia akan memperbesar jumlah anggota Kopassus.


Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia 

Kopasus Indonesia


Sebagian Kecil prestasi dan Kiprah Kopassus:
  1. Kopassus juga juara satu sniper dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pasific Desember 2006. Dengan hanya mengandalkan senjata buatan Pindad! Nomor 2-nya SAS Australia.
  2. Kopassus menempati urutan 2 (dari 35) dalam hal keberhasilan dan kesuksesan operasi militer (intelijen – pergerakan – penyusupan – penindakan) pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina Austria. Nomor satunya Delta Force USA.
  3. Negara-negara afrika utara hingga barat sekarang memiliki acuan teknik pembentukan dan pelatihan pasukan elite mereka. 80% pelatih mereka dari perwira-perwira Kopasus.
  4. Pasukan Paspampres Kamboja adalah pasukan Elit yang dilatih oleh Kopassus.
  5. Pada perang Vietnam, para tentara Vietkong meniru strategy KOPASSUS dalam berperang melawan Amerika Serikat yang mengakibat kan kekalahan Pasukan Amerika yang mempunyai persenjatan canggih dan lengkap. Kekalahan ini membuat Amerika serikat malu di mata dunia.

Sejarah singkat Kopassus

Sejak Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda tgl 27 Desember 1949 dan beberapa Pemberontakan di wilayah Indonesia (APRA, Andi Azis, RMS) mengilhami dibentuknya Satuan Pemukul Fleksibel yang cepat dan tepat dalam menghadapi sasaran dan medan yang berat. Pembentukan Satuan tersebut dipelopori oleh Letkol Slamet Riyadi dan dilanjutkan oleh Kolonel A.E. Kawilarang sebagai Pejabat Panglima Tentara dan Teritorium-III/SLW.

Melalui Instruksi Panglima Tentara dan Terirorium-III/SLW tanggal 16 April 1952 dengan terbentuknya Kesatuan Komando Teritorium-III/SLW yang merupakan cikal bakal “Korps Baret Merah” :
  1. Tahun 1953 diubah menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD)
  2. Tanggal 25 Juli 1955 KKAD diubah menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKD)
  3. Tahun 1956 dengan dibuka pendidikan terjun payung maka RPKD diubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)
  4. Tanggal 12 Pebruari 1966 RPKAD diganti menjadi Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (PUSPASSUS TNI AD)
  5. Tanggal 17 Pebruari 1970 PUSPASSUS TNI AD diubah menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (KOPASANDHA)
  6. Tanggal 21 Mei 1985 KOPASANDHA diubah menjadi Komando Pasukan Khusus (KOPASUS) s.d. sekarang

Inilah 5 Besar Pasukan Elite Dunia

1. England SAS (Special Air Service)
Adalah resimen pasukan khusus dalam Angkatan Darat Inggris yang pernah menjadi model bagi pasukan khusus dari negara-negara lain. SAS membentuk bagian signifikan Pasukan Khusus Kerajaan Inggris Special Boat Service (SBS), Special Reconnaissance Regiment (SRR), dan Pasukan Special Support Group (SFSG).
Beladiri : Gon-Ryu Karate
Alumni : Bear Grylls ( ada di acara discovery channel Survival expert)


2. Mossad Israeli
He Mossad (HaMossad leModi’in uleTafkidim Meyuchadim) Mossad bertanggung jawab atas pengumpulan intelijen dan operasi-operasi rahasia termasuk kegiatan paramiliter. Ini adalah salah satu entitas utama dalam Komunitas Intelijen Israel, bersama dengan Aman (intelijen militer) dan Shin Bet (keamanan internal), tetapi direktur melapor langsung kepada Perdana Menteri. Peran dan fungsi yang sama dengan Central Intelligence Agency (CIA) dan Secret Intelligence Service (SIS).
Beladiri : Israeli Krav Maga
Alumni : Eitan Rafi (Sekarang beliau udah jadi salah satu pasukan perdamaian dunia)
Moto : “Cegah serangan pertama, netralkan lawan, buatlah mereka melihat mimpi buruk akan hal yang mereka perbuat.” -Ron Radjik


3. Indonesian KOPASSUS
Kopassus, (a portmanteau of “Komando Pasukan Khusus”: atau “Special Force Command” adalah pasukan khusus Angkatan Darat Indonesia. kelompok yang melakukan misi operasi khusus bagi pemerintah Indonesia, seperti tindakan langsung: konvensional perang, sabotase, kontra-pemberontakan: kontra-terorisme, dan pengumpulan intelijen. Kopasus ini didirikan pada tanggal 16 April 1952.
Beladiri : Merpati Putih
Alumni : 3 terbaik dari KOPASUS telah dijadikan pasukan perdamaian dunia
Moto : Berani, Benar, Berhasil.


4. Russian Spetsnaz
Special Force Resimen Rusia atau Spetsnaz, Specnaz (bahasa Rusia: pengucapan ; sptsnastr: Voyska spetsialnogo naznacheniya; adalah istilah umum untuk “pasukan khusus” dalam bahasa Rusia, secara harfiah ” tujuan khusus “. Pasukan khusus Rusia tersebut dapat secara khusus mengacu ke setiap elit atau unit Spetsnaz di bawah subordinasi Dinas Keamanan Federal (FSB) atau Rusia Pasukan Internal Departemen Dalam Negeri, dan unit dikontrol oleh dinas intelijen militer GRU.
Beladiri : Russian Sambo
Moto : “hahaha Betapa bodoh nya mereka yang ingin membunuh kami dengan cara mereka, mereka hanya tidak tahu bahwa darah yang akan bertumpahan nantinya berasal dari mereka sendiri. Mereka hanya tidak tahu… itu saja.”


5. French GIGN
Intervensi Gendarmerie Nasional Group, biasa disingkat GIGN (bahasa Perancis: Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale), adalah elite Gendarmerie Perancis Operasi Khusus kontra-terorisme dan penyelamatan sandera unit; itu adalah bagian dari kekuatan militer yang disebut Gendarmerie. Bahkan jika para anggotanya milik militer, mereka sekarang dituntut dengan tugas-tugas polisi urbanised di luar daerah. Dengan demikian unit GIGN ditingkatkan lebih dekat dengan tim SWAT daripada unit militer murni seperti tentara Inggris SAS. Para operator akan dilatih untuk mengikuti peraturan polisi dan mencakup negosiasi dan penyelidikan spesialis.
Beladiri : Savate

sumber: kaskus.us, letkolexcent.wordpress.com, bismania.com, 
http://www.resep.web.i

Marinir AS di Australia dan 70 Pasukan AS di Papua, Sebuah Ulasan

13226192871188315558



Sebuah berita yang menggigit disampaikan oleh Ali Kastela, anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Hanura, yang menyatakan bahwa ia menemukan adanya 70 tentara aktif AS yang ditempatkan di Freeport Papua. “Saat kunjungan kerja ada 70 personel militer Amerika aktif yang bekerja di Freeport,” ujar Ali saat rapat tim monitoring Papua dan Papua Barat dengan pemerintah di DPR Senayan, 25 November lalu.

Pernyataan terus bergulir menjadi berita yang efeknya kurang baik bagi pemerintah karena dianggap kedaulatan negara diinjak-injak oleh negara asing khususnya Amerika Serikat. Informasi adanya militer AS di Freeport yang sensitif  menjadi menarik karena secara psikologis para elit politik mengkaitkan dengan rencana penggelaran Marinir AS di Darwin.  Seperti kita ketahui, sebelum mengikuti KTT Asia Timur di Bali pada 17 November lalu, Presiden Barrack Obama sempat singgah di Canberra dan menyatakan akan menempatkan secara bertahap 2500 Marinirnya di  Darwin.

Banyak pihak kemudian membahas dan menyimpulkan bahwa penempatan Marinir itu erat sekali hubungannya dengan memanasnya situasi Papua beberapa bulan terakhir. Penulis pernah menuliskan masalah serta latar belakang penggelaran pasukan tersebut di Darwin dengan judul “Perseteruan AS dan China di Laut China Selatan,” http://ramalanintelijen.net/?p=4336 (Ditayangkan di Harian Seputar Indonesia (22/11/2011).

Duta Besar Amerika Serikat (Dubes AS) untuk Indonesia Scot Marciel  menjelaskan bahwa penempatan pasukan AS di wilayah Asia tidak bertujuan untuk mengganggu negara lain dan AS menghormati kedaulatan setiap negara. Selanjutnya lebih ditegaskan lagi oleh Dubes AS untuk ASEAN David Carden, di Kedutaan Besar AS Jakarta, Selasa (22/11/2011), “Ini adalah perjanjian dan bentuk aliansi dari AS dan Australia yang sudah terjalin sejak dulu. Kami berada di wilayah itu untuk memelihara perdamaian.” Mungkin pernyataan Carden berkait dengan kasus perebutan kepulauan Spratly, dimana AS diminta oleh negara Filipina dan Vietnam yang merasa terancam dan ditekan oleh China. Penempatan pasukannya di Darwin adalah sebagai simbol pancangan kaki AS di kawasan Asia Tenggara.

Secara logika, penempatan marinir sekitar empat batalyon (setara dengan satu Brigade) serta dukungan satuan udara tempur di Australia Utara agaknya terlalu berlebihan apabila dikaitkan langsung dengan kondisi Papua. Secara psikologis mungkin saja bisa diartikan demikian. Entah siapa yang akan di perangi oleh Marinir tersebut. Apabila dikaitkan dengan gangguan keamanan, penembakan sporadis oleh kelompok OPM hanyalah serangan teror dengan skala kecil. Dalam hal ini AS yakin bahwa pemerintah Indonesia masih mampu mengontrol situasi.

Atau, apakah AS akan berperang dengan Indonesia? Nampaknya juga tidak. Indonesia kini jelas dinilai bukan ancaman  bagi AS. Bahkan ancaman teroris terhadap kepentingan AS di Indonesia mampu dinetralisir. Sebanyak  700  lebih teroris ditangkap atau ditembak mati di Indonesia sejak 2002. Pemerintah AS akan melakukan perang terhadap sebuah negara apabila negara tersebut menjadi ancaman langsung atau juga melindungi kelompok yang merupakan ancaman langsung terhadap negara AS (Contoh studi kasus pemerintah Taliban di Afghanistan yang melindungi Al-Qaeda diserbu dan dijatuhkan pasukan AS).

Selain itu AS akan ikut campur di sebuah negara apabila terjadi tindak kekerasan, kesewenang-wenangan sebuah pemerintahan terhadap rakyatnya, berupa pelanggaran keras HAM. Dalam hal ini AS umumnya akan bergabung dengan NATO, dan secara resmi melakukan serangan. Keduanya berlindung dan terlindung dibawah keputusan/maklumat PBB (Contoh studi kasus Libya).

Negara AS disebelah Barat berbatasan dengan Samudera Pasifik, karena itu kekuatan militer AS di Pasifik Selatan sangat besar. Apabila dibutuhkan, pengerahan militer Amerika di Pasifik Selatan dapat dilakukan dengan cepat oleh Pacific Air Forces (PACAF) yang bermarkas di Hickam Air Force Base, Hawai. Dislokasi kekuatan tempur udaranya berada di Yokota Air Base Jepang, Osan Air Base, Korea Selatan, Elmendorf Air Base Alaska dan Thirteenth Air Force (AFPAC), Hickam AFB, Hawaii.

PACAF adalah komponen udara dari Komando Pasifik Amerika. Organisasi perang ini adalah  komponen udara dari Komando Pasifik Amerika dan merupakan salah satu dari dua Komando Utama Angkatan Udara AS diluar benua Amerika. Komando satunya adalah United States Air Forces in Europe (USAFE). Komando ini memiliki sekitar sekitar 45.000 personil militer dan sipil, dilengkapi dengan 300 pesawat tempur  penyerang. Pacific Air Forces yang dipimpin oleh seorang Jenderal berbintang empat, pernah terlibat dan mempunyai pengalaman dalam perang dunia kedua, perang Korea, perang Vietnam dan Operasi Desert Storm 1991.

Untuk keterangan lebih lanjut, penulis saat masih aktif bertugas di TNI  pernah mendampingi pimpinan (Kasau) melakukan peninjauan ke PACAF, tertuang dalam artikel “Meninjau Pacific Air Forces,” http://ramalanintelijen.net/?p=1582.

Nah, kini bergulirnya berita adanya 70 militer AS di Papua, langsung dibantah oleh Duta Besar AS di Jakarta. Pemerintah AS juga melalui Dubesnya menegaskan keberadaan militer AS itu juga tak ada kaitannya dengan masalah Papua. “Keberadaan militer AS tidak berkaitan dengan Papua, kami mendukung kedaulatan Indonesia,” tegas Dubes Marciel. Disini berarti tidak ada pasukan yang melanggar kedaulatan negara Indonesia, begitu kira-kira. Asisten Menteri Luar Negeri AS Kurt M Campbell pada bulan lalu juga menyatakan prihatin dengan kasus Papua. Mereka menyadari isu ini merupakan isu sensitif yang di alami Indonesia. Campbell tetap menyarankan agar diadakannya dialog antara pihak PT Freeport, Pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua.

Bagaimana penjelasan pemerintah terhadap berita sensitif tersebut? Menko Polhukkam Djoko Suyanto membantah adanya isu penempatan 70 tentara Amerika Serikat di PT Freeport Indonesia, Papua.  Dari  hasil klarifikasi menunjukkan beberapa orang konsultan keamanan diambil dari perusahaan pengamanan seperti banyak digunakan  negara lain. Pihak perusahaan mengakui memang ada beberapa pensiunan militer yang bekerja di Freeport.

Kepala BIN  Marciano menyatakan, BIN sedang menyelidiki dan mempertajam isu adanya tentara aktif yang bekerja di PT Freeport. BIN  hanya menemukan purnawirawan AS yang bekerja Freeport. “Di Freeport kita tidak menemukan ada tentara aktif di sana. Apalagi dengan perlengkapannya. Tidak ada. Kalau mungkin, mereka sudah purnawirawan dan bekerja. Itu mungkin saja, tapi tentara aktif tidak ada,” tegas Marciano.

Memang penjelasan para pejabat tadi sudah mempunyai kekuatan hukum dan politis sendiri dalam menjelaskan masalah. Sesuai dengan Keppres No.63/2004 tentang pengamanan obyek vital, pengelola PT  Freeport harus bertanggung jawab atas pengamanan obyek vitalnya berdasarkan prinsip pengamanan internal, dan Polri berkewajiban memberi bantuan pengamanan. Apabila dibutuhkan, maka Polri dapat meminta bantuan kepada TNI berdasarkan dengan UU yang berlaku. Itulah aturan yang selama ini diterapkan.

Dalam melakukan pengamanan internal terhadap obyek vital yang sangat penting tersebut, dapat dipastikan Freeport menggunakan tenaga sekuriti profesional bertaraf internasional, umumnya menyewa  mantan  pasukan khusus. Mengingat luasnya wilayah operasi AS di dunia dan besarnya kebutuhan personil intelijen serta akses ke wilayah negara lain, CIA-pun sebagai Badan Intelijen utamanya juga menyewa tenaga profesional setempat yang disebut sebagai kontraktor. Seperti yang umumnya terjadi di semua Kedutaan Besar di negara manapun, wajar saja apabila beberapa personilnya adalah petugas dari Badan Intelijen dengan “cover” yang ketat. Demikian sistem yang diterapkan.

Entah bagaimana kita  bisa menyelidiki para personil Freeport tersebut yang hanya diketahui oleh PT Freeport itu sendiri. Pemerintah AS pasti akan sangat berhati-hati dalam menjaga Freeport, karena tambang tersebut adalah salah satu harta kekayaan mereka di luar negeri yang akan mereka pertahankan mati-matian.

Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )
Sumebr: http://hankam.kompasiana.com

KOPASSUS Pasukan Elit Terbaik ke-3 di Dunia

1320831957217479471
Kopassus Urban Combat


Seperti yang sudah pernah dibahas dalam Discovery Channel Military tentang pasukan khusus terbaik di dunia (Top Elite Special Forces In The World). Maka saat itu seluruh pasukan khusus di dunia dinilai kinerjanya dengan parameter-parameter tertentu, dan tentu saja dihimpun juga pendapat-pendapat dari berbagai pengamat militer dan para ahli sejarah.

Menurut siaran Discovery Channel tersebut terlihat hasil yang cukup membanggakan tanah air tercinta kita Indonesia ini. Posisi pertama ditempati SAS (Inggris), peringkat kedua MOSSAD (Israel), dan peringkat ketiga adalah KOPASSUS (Indonesia). Narator dari Discovery Channel Military menjelaskan kenapa pasukan khusus Amerika Serikat tidak masuk peringkat. Ternyata dikarenakan mereka terlalu bergantung pada peralatan yang berbasis teknologi super canggih, akurat dan serba digital.

Sedangkan menurut penilaian bahwa sebuah pasukan khusus yang hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal kemampuan individu. Tentu saja termasuk di dalamnya adalah kemampuan bela diri, bertahan hidup (survival), kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap. Dan lain sebagainya.

13208320541822287762


Kemampuan yang tidak terlalu mengandalkan dan bergantung pada teknologi canggih dan memiliki skill di atas rata-rata pasukan elit luar negeri lainnya menjadi nilai plus bagi Kopassus. Mungkin karena itu pulalah muncul ungkapan bahwa 1 prajurit Kopassus setara dengan 5 prajurit biasa. Dan mungkin juga karena kehebatan Kopassus itu jugalah yang menyebabkan sekitar tahun 90-an Amerika begitu keberatan, dan Australia menjadi ketakutan ketika Indonesia akan memperbesar jumlah anggota Kopassusnya.

Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dulunya bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha), dilatih untuk mengumpulkan data intelijen, berbagai teknik operasi khusus, sabotase, dan pendaratan lewat udara dan air. Didirikan pada tanggal 16 April 1952, Kopassus dirombak dan dikecilkan jumlahnya di tahun 1985, dan pada tahun 1992 kekuatan Kopassus hanya berjumlah 2.500 orang. Mereka, yang dapat dengan mudah dikenali karena baret merahnya, dibagi dalam dua grup operasi dan satu grup pelatihan.

Pada tahun-tahun akhir di dasawarsa 1990-an Kopassus kembali menambah jumlah anggotanya menjadi 6.000 orang. Dengan bermarkas besar di Cijantung, Jakarta Timur, Kopassus berkembang menjadi lima grup, dimana Group IV secara khusus menangani operasi intelijen bersama dengan Satuan Gabungan Intelijen (SGI) Kopassus.

13208321241653215135
Marching


Beberapa kiprah Kopassus yang membanggakan antara lain pernah penjadi juara satu sniper (penembak jitu) dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pacific Desember 2006. Waktu itu nomor duanya adalah dari SAS. Kemudian mereka menduduki posisi nomor 2 dari 35 pasukan khusus yang ikut terlibat dalam hal keberhasilan dan kesuksesan operasi militer (intelijen-pergerakan-penyusupan-penindakan) pada pertemuan Elite Forces in Tactical Deployment and Assault di Wina Austria. Pada saat itu yang menjadi nomor satu adalah Delta Force USA. Negara-negara Afrika Utara hingga Afrika Barat memiliki acuan teknik

pembentukan dan pelatihan pasukan khusus mereka dengan sekitar 80% pelatih mereka adalah perwira-perwira Kopassus. Bahkan pasukan pengawal presiden (PASPAMPRES) Kamboja adalah sebuah pasukan elite yang dilatih oleh Kopassus. Unit Kopassus pernah terlibat dalam operasi pembebasan sandera dalam pesawat Garuda Airline Woyla pada tahun 1981.

Ternyata kita memiliki pasukan elite yang sungguh luar biasa. Karenanya besar harapan pasukan elite ini tidak hanya mengangkat citra Indonesia di mata dunia, tapi juga mampu membantu stabilitas dalam negeri. Tentu saja di dalamnya ada harapan bahwa Kopassus juga dapat membantu “mengamankan” Papua, dan daerah-daerah konflik lainnya.

Data & Pic. Source: Kopassus off.Site, Discovery Channel USA.
Michael Sendow
Sumber: www.kompasiana.com

Polemik Hibah F-16

http://www.wired.com/images_blogs/dangerroom/images/2008/06/19/f16i.jpg

Kesepahaman antara DPR dan pemerintah dalam pengadaan F-16 masih terus mencari titik temu dari segi teknologi dan pembiayaan. Komisi I DPR, sebagai mitra pemerintah dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional, memberikan beberapa persyaratan dan skema pembiayaan. Seperti apa? Berikut saya paparkan polemik sekitar ini.

DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa pengadaan F-16 penting bagi TNI untuk meningkatkan performa dan kewibawaan TNI di lingkungan regional. Tertuang dalam rencana pembelian di tahun 2011, telah disepakati alokasi dana untuk pembelian 6 unit F16 baru untuk block 52+, senilai lebih kurang us$ 430juta. Alokasi pembelian armament (senjata) dipersiapkan secara terpisah.

Dalam perkembangannya timbul opsi lain. Hasil komunikasi antara TNI AU dan pemerintah Amerika, secara Goverment to Goverment, pemerintah Amerika menawarkan program hibah F-16 kepada pihak Indonesia. Program hibah ini disampaikan juga oleh Presiden Barrack Obama dalam kunjungan  singkatnya ke Indonesia pada 9 November 2010 yang lalu. Hibah F-16 ini telah mendapat persetujuan dari Kongres Amerika, dengan komposisi sbb : maksimal 28 unit F-16 block 25, 2 unit F-16 block 15, dan 28 engine utk F-16 block 25, dengan kondisi “as is where is” (seperti itu, di lokasi itu) alias apa adanya untuk pesawat F-16 yang diparkir di Arizona.

Di Arizona, terdapat sebuah padang luas, tempat dimana Amerika memarkir pesawat-pesawat tempur, baik yang masih digunakan maupun yang tidak digunakan lagi oleh militer Amerika. Padang Arizona memiliki kelembaban yang  rendah, sehingga pesawat yang diparkir di sana tidak mengalami korosi/kerusakan akibat humiditas. Kongres Amerika telah memberikan izin 28 unit F-16 untuk Indonesia, sementara Indonesia hanya butuh 24, jadi sudah terdapat titik terang. F-16 yang dimaksud kondisi nya terpakai 4000jam sd 6000jam, sehingga harus dilakukan program Falcon Star agar dapat digunakan hingga 8000jam terbang. Menurut KSAU, rata-rata pesawat akan digunakan 10-20jam/bulan, sehingga pesawat bekas tersebut dapat digunakan selama 12 – 15 tahun.

Karena “as is where is”, berarti delegasi Indonesia harus berangkat ke Arizona akan memilih 24 unit pesawat yang terbaik dari ratusan F-16 yang terdapat di sana.

Dalam penjelasan yang disampaikan menteri pertahanan kepada komisi 1, lebih lanjut ditengarai bahwa pemerintah Amerika ternyata tidak memberikan hibah “begitu saja”. There no ain’t such thing as a free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Mereka menawarkan konsep hibah plus upgrade.

Terjadi Dispute. Proposal yang disampaikan menteri pertahanan, diperlukan biaya sekitar us$ 450 juta – 600 juta untuk proses hibah (termasuk upgrade 24 pesawat) tersebut. Pada kesempatan yang berbeda, terjadi penjelasan Panglima TNI dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I, ada dua catatan terhadap proses hibah dan upgrade ini. Pertama, pesawat setelah diambil dari Arizona, kemudian akan diupgrade ke block 32. Hasil upgrade bisa selesai dan dikirim ke Indonesia, paling cepat pada tahun 2014 sebanyak 4 (empat) unit, setelah itu disusul dengan pengiriman lainnya. Kedua, biaya hibah dan upgrade 450 juta US dollar harus dibayar pemerintah Indonesia di awal, tunai.

Atas persyaratan tersebut, maka terjadilah perdebatan panjang di ruang rapat Komisi I antara anggota Komisi I DPR RI dengan Pihak Kemenhan.

Beberapa pemikiran yang dimunculkan oleh anggota Komisi I antara lain:
Pertama; kalau waktu delivery nya lama, kenapa harus beli bekas. Kalau beli baru, kita butuh waktu sekitar 36 bulan (sekitar 3 tahun) untuk mendapatkan 6 unit saja dengan daya tahan atau pemakaian jauh lebih lama (up to 8000jam pemakaian). Resiko membeli bekas, dari segi teknologi sudah pasti ketinggalan, walau memang harus diakui dari segi jumlah pesawat lebih banyak dengan jumlah uang yang sama.

Kedua; bila membeli bekas dan kemudian akan melakukan upgrade, maka Komisi I secara bulat mempunyai pemikiran, “bagaimana jika 24 unit pesawat F-16 tersebut diupgrade ke teknologi terbaru saja?”. Berdasarkan penjelasan Kemhan dan TNI AU, block 25 dan bloc 52 memiliki 2 perbedaan mendasar yaitu Perbedaan Sistem Avionik (block 32 menggunakan teknologi Commercial Fire Control Computer – CFCC, block 52 menggunakan teknologi Modular Mission Computer – MMC), Perbedaan Engine (engine block 52 berukuran lebih besar), dan Perbedaan Airframe (mengakomodasi mesin block 52 yang lebih besar, dan penambahan ruang angkut bahan bakar). Pilihannya adalah 24 F-16 block 25 tersebut diganti sistem avionik nya (termasuk mengganti cockpit) menjadi sistem avionic block 52 (sistem persenjataan menyesuaikan), sementara airframe dan engine tetap.


Sisi Teknologi

Konsep Hybrid (perkawinan), yaitu F-16 block 25, dengan kekuatan mesin tetap block 25, tapi avionik serta senjatanya di upgrade ke block 52. Keunggulan terdapat di avionic block 52, yang lebih canggih dari avionic block 25 dan block 32. Catatan : Proposal Kemhan mengusulkan agar upgrade avionic dilakukan menjadi block 32.

Pertimbangan yang mengemuka : karena Indonesia negara kepulauan, maka tidak membutuhkan mesin dengan jangkauannya lebih jauh. Untuk menjangkau Malaysia, misalnya, bisa dari kepulauan Riau, atau Pontianak untuk menjangkau wilayah Malaysia yang dekat Kalimantan. Begitu juga, untuk menjangkau Timor Leste bisa dari Kupang.

Dasar pemikiran dari Komisi I dengan konsep Hybryd itu terkait dengan “efek getar” (deterrent effect) dan daya tangkal. Singapura memiliki F-16 block 52 sejak tahun 1998 yang lalu.. Jadi kalau Indonesia di tahun 2014 memiliki 24 unit F-16 yang diupgrade “hanya” menjadi block 32, maka dinilai tidak mempunyai efek getar di kawasan.

Komisi 1 mempersilahkan Kemhan untuk mempersiapkan beberapa opsi, dilengkapi perkiraan biaya dan waktu, untuk menjadi bahan pertimbangan yang diperlukan. Proposal Kemhan untuk meng upgrade menjadi block 32, dan butuh waktu 3 tahun, dengan ongkos us$450 juta, sementara dari segi efek getarnya juga tidak terasa, maka menurut Komisi I, adalah keputusan yang “nanggung”, perbuatan setengah-setengah. Adalah lebih baik sekalian saja beli pesawat tempur baru sebanyak 6 unit blok 52. Selain efek getarnya lebih terasa, umur pemakaian juga akan lebih lama, yaitu sekitar 30 tahun, dibanding pesawat bekas yang hanya berumur 12 tahun.


Sisi Pembiayaan

Polemik kedua berkaitan dengan sisi pembiayaan. Skema pembayaran FMS (Foreign Military Sale) yang ditawarkan oleh pemerintah, sangat menarik, yaitu G to G (negara dibayar oleh Negara). Namun muncul pemikiran : Hibah, kok Mbayar?

Muncul pemikiran : (mungkin) pesawat bekas nya hibah, tetapi di “bundled” dengan membayar utk pelaksanaan program Falcon Star dan Upgrade.

Skema pembayaran FMS, ada kelemahannya : Pemerintah Amerika minta dibayar tunai 70% dimuka. Artinya, pesawat dikirim 2014 tapi pemerintah harus bayar lebih dulu, sekarang juga. Uang sebesar itu (70% x US$ 450 juta) tertahan diam di kas pemerintah Amerika. Sungguh disayangkan, semestinya dana sebesar itu bisa kita manfaatkan untuk membeli keperluan TNI lainnya seperti pembangunan pesawat patroli, kapal patroli, tank tempur, dan lain-lain. Ada masukan agar melalui Pinjaman Dalam Negeri oleh Bank Pemerintah, sebagai contoh melalui Bank Mandiri cabang New York, Bank Mandiri atas nama Pemerintah membayar penuh ke pemerintah Amerika, sementara Kemhan membayar ke Bank Mandiri secara installment per tahun (dicicil).

Komisi I sekarang ingin berbuat lebih baik dalam masa pengabdiannya. Jangan sampai hanya menjadi “tukang stempel” pemerintah. Tapi harus benar-benar menjadi mitra pemerintah dalam menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara. Karenanya Komisi I membahas setiap persoalan, secara detil, teliti, dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara secara konsisten.


Sisi Pengerjaan Upgrade

Komisi 1 juga menyampaikan pemikiran : untuk memberdayakan kemampuan engineering Dalam Negeri, bagaimana bila proses Falcon Star dan Upgrade Block, dilakukan di wilayah Republik Indonesia? Sehingga terjadi proses pembelajaran dan transfer of technology yang bisa diserap oleh bangsa Indonesia. Kalau proses Falcon Star dan pelaksanaan Upgrade sepenuhnya dilakuka di Amerika, komisi 1 menganggap tidak ada nilai lebih yang signifikan buat industri pertahanan Dalam Negeri. Ini bagian dari komitmen Komisi 1 untuk mendukung pemberdayaan terhadap teknologi dan industri dalam negeri dalam menuju kemandirian alutsista. Pengerjaan upgrade-nya harus dilakukan di Indonesia dengan supervisi dari pihak produsen utama. Kami di Komisi I mengetahui bahwa anak-bangsa kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk di bidang teknik perawatan dan upgrade alutsista.

Memahami pemikiran Komisi 1, anak bangsa Indonesia akan mempunyai kesempatan untuk melakukan bongkar-pasang pesawat-pesawat F-16 tersebut. Meskipun mengerjakan barang bekas, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh anak bangsa tersebut merupakan aset yang sangat berharga dalam perjalanan bangsa ke depan. Jelas itu jauh lebih berguna bila dibandingkan : beli barang bekas, diupgrade oleh produsen langsung, duit terbang ke negara lain, sementara bangsa sendiri tidak pernah diberi kesempatan untuk pintar.

Jadi selain syarat teknologi dan pembiayaan, Komisi I juga memberikan penekanan pada aspek pengerjaan up-grade tersebut.

Dalam dua kali pertemuan, yaitu Senin (19/09) dan Rabu (21/9) antara pihak Pemerintah dan DPR, kesepakatan belum dicapai. Pihak pemerintah masih akan mengkaji keinginan Komisi I, dan Komisi I juga belum bisa menyetujui kemauan pemerintah. Pihak pemerintah yang hadir dalam pertemuan antara lain Menhan, Wamenhan, Sekjenhan, Panglima TNI, Asrenum  (Asisten Perencanaan Umum) didamping oleh Kasau, Wakasau, dan jajaran Angkatan Udara.

Semoga informasi deskriptif ini bermanfaat bagi masyarakat untuk memberikan masukan yang terbaik untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Fayakhun
www.kopasiana.com

Hibah 30 Pesawat Tempur F-16 Belum Dapat Lampu Hijau DPR

AP/Chiang Ying-ying, File/ip


Hibah pesawat tempur F-16 yang sedianya didapatkan oleh Indonesia dari pihak AS belum mendapatkan persetujuan dari Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat.

Dalam rapat kerja, Rabu (21/9) di Gedung DPR Jakarta, Komisi I mempertanyakan beberapa hal terkait dengan hibah tersebut kepada Kementerian Pertahanan.

Anggota Komisi I juga mempertanyakan terminologi hibah tersebut yang ternyata harus membayar. Sedangkan politisi dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Maiyasyak Johan mempertanyakan bagaimana sistem transfer teknologi pesawat F-16 tersebut.

Sebelumnya pihak Kementerian Pertahanan melalui Sekretaris Jenderalnya Marsekal Madya TNI Eris Heryanto menjelaskan hibah F-16 itu menggunakan skema Foreign Millitary Sale (FMS). Melalui skema tersebut, tanggung jawab ditanggung oleh pihak AS, dan Indonesia tidak perlu membayar pajak atau jasa. "Standar pesawat yang dihibahkan juga standar pesawat militer AS," ujar Eris.

Sekjen Kemhan juga menyatakan sekarang sedang dalam tahap penandatanganan Letter Of Accetance (LoA) antara pemerintah RI dengan AS yang akan ditandatangani pada Februari 2012. "Jadi pada Maret 2012 diharapkan bisa pesawat sudah bisa datang, dan pada 2014 sudah sampai 16-20 pesawat yang datang," imbuh Eris mengenai hibah 30 pesawat tempur itu.

Di bagian lain, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan pesawat F-16 tersebut merupakan pesawat F-16 Block-25 yang akan diupgrade menjadi Block-32. "Jadi akan diupgrade di AS dan kita akan mengirimkan tim ke sana untuk memantau." jelas KSAU.

Menanggapi kemauan beberapa anggota Komosi I yang menginginkan F-16 tersebut diupgrade ke Block-52 yang merupakan model terbaru, Imam Sufaat menyatakan bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan. Itu karena perbedaan engine (mesin) dan menurut pihak otoritas militer AS, Block-32 mempunyai keunggulan dalam segi avionik.

Sedangkan Menhan Purnomo Yusgiantoro menambahkan skema pembayaran F-16 tersebut adalah dengan membayar uang muka pada 2012 sebesar Rp3,8 triliun setelah LoA ditandatangani.

Menanggapi penjelasan pihak Kementerian Pertahanan, Pimpinan Rapat Komisi I Tb Hasanuddin menyatakan menunda penyetujuan hibah F-16 tersebut untuk dibahas di internal Komisi I. Itu dilakukan untuk melakukan pendalaman mengenai pembiayaan, pemeliharaan, dan mengenai jumlah pesawat.

Sumber: www.mediaindonesia.com

Menimbang Untung Rugi Hibah 30 Jet Tempur F-16 dari AS


Menhan: AS Tetap Hibahkan Satu Skuadron F-16
Skuadron pesawat tempur F-16

Tawaran hibah dari negeri Barrack Obama itu cukup menggiurkan. 30 pesawat tempur F-16C/D Fighting Falcon.

Di saat kekuatan udara Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga, tentunya kehadiran jet tempur ini akan kembali menumbuhkan taring TNI AU. Tetapi namanya hibah,dan barang bekas, tentunya tidak sama dengan barang baru.

Keuntungan pertama jelas soal biaya. Biaya retrofit pesawat-pesawat ini jauh lebih murah daripada membeli pesawat baru.

"Lockheed Martin menyatakan 1.400 juta dollar untuk satu skuadron atau 16 pesawat. Tapi kalau dengan sparepart dan pelatihan, 1.600 juta dollar. Jadi 1 pesawat 100 juta dollar," ujar KSAU Marsekal Imam Sufaat usai rapat dengan Komisi I DPR di Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2011).

Nah, bandingkan dengan biaya retrofit atau pemutakhiran 30 pesawat hibah tersebut yang hanya menelan biaya total 430 juta dollar.

Keuntungan kedua, proses retrofit bisa lebih cepat dari pada memesan pesawat baru. Jika retrofit dilakukan sekarang, tahun 2014 sudah siap satu skadron. Sementara untuk memesan dan merakit pesawat baru diperkirakan bisa memakan waktu hingga lima tahun.

"Deliverynya paling cepat lima tahun. Karena beli pesawat tak seperti beli kacang," kata Imam.

Minus hibah dari AS, masih terbayang ketakutan akan terjadi embargo persenjataan oleh AS pada Indonesia, seperti yang pernah terjadi dulu. Saat itu pesawat-pesawat TNI AU yang diproduksi AS harus melakukan kanibal suku cadang untuk tetap bisa beroperasi.

Tentunya Indonesia tidak ingin hal semacam itu terjadi lagi. Namun TNI AU yakin embargo senjata tidak akan terjadi lagi.

"Itu kan karena pelanggaran HAM, kita kan negara demokratis," jelas Imam.

Menurut Imam, alasan AS mau memprioritaskan hibah ini untuk Indonesia karena AS menganggap Indonesia adalah mitra strategis. TNI AU pun kini sangat memerlukan tambahan pesawat tempur.

"Sangat penting. Kita akan menambah kekuatan. Kalau AU sangat mengharapkan ada penambahan pesawat," jelas jenderal bintang empat ini.

Sebagai catatan, Indonesia pernah memiliki 12 unit F-16 blok 15OCU yang terdiri atas delapan F-16A dan empat F-16B. Namun, kini hanya beberapa yang kondisinya siap operasi seratus persen. Imam pun berharap sisa F-16 generasi pertama ini bisa diupgrade menjadi model terbaru.

Tapi TNI masih harus bersabar menunggu persetujuan DPR yang masih belum sepenuh hati menyetujui hibah pesawat tempur ini. Sehingga belum jelas pula kapan rombongan elang besi ini bisa menjaga kedaulatan Indonesia.

www.detiknes.com



 

http://irwan.net/wp-content/gallery/diecast-pesawat/diecast-pesawat-f16-tni-au.jpg

Menhan: AS Tetap Hibahkan Satu Skuadron F-16

Jumat, 26 Agustus 2011 
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan Indonesia tetap menerima hibah satu skudron pesawat tempur F-16 dari pemerintah Amerika Serikat. "Kita tetap dapat hibah," katanya, usai menyaksikan penyerahan enam unit helikopter Mi-17 V5 dari pemerintah Rusia ke Indonesia melalui Kementerian Pertahanan di Skuadron 2 Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat Pondok Cabe, Tangerang, Jumat.
Ia menambahkan dua Skuadron F-16 tipe Block 25 yang dihibahkan itu akan di-"up grade" menjadi F-16 Block 32 yang lebih canggih kemampuannya.

Sekjen Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Erris Heriyanto menambahkan, dari 30 unit F-16 yang dihibahkan, 24 akan dihidupkan dengan 28 mesin.

"Hibah F-16 itu telah mendapat persetujuan dari kongres AS. 'Congress Notification' sudah keluar pada 16 Agustus silam dan kita tetap mendapatkan hak atas hibah itu," katanya.

Sebelumnya dikabarkan Kongres AS membatalkan rencana hibah F-16 kepada Indonesia dan menawarkannya ke Taiwan. "Itu tidak benar," katanya.

Nama Purnomo Yusgiantoro pun sempat ramai belakangan karena disebut dalam kawat Kedubes AS di Jakarta yang dikirim ke Washington DC. Dalam kawat itu, Purnomo masuk daftar menteri yang bisa dijadikan sekutu AS.

www.republika.co.id


Menhan: Soal F-16, Indonesia-AS Setara
Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan

Menhan: Soal F-16, Indonesia-AS Setara

Kamis, 27 Januari 2011
DPR khawatir dengan rencana TNI yang akan menerima hibah 24 pesawat tempur F16 dari Amerika Serikat. Hibah itu dikhawatirkan bisa menambah ketergantungan Indonesia kepada AS.

DPR juga tidak ingin hibah F16 ini mengganggu rencana pembangunan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) dari dalam negeri.

Menhan Purnomo Yusgiantoro menepis kekhawatiran itu. Dia mengatakan, setiap berhubungan dengan AS, Indonesia selalu menerapkan prinsip kesetaraan.

"Kita sudah komitmen, Amerika dan Indonesia sebagai kekuatan yang sama. Dan tertuang dalam dokumen resmi. Kita setara dengan amerika. Ada juga kepentingan yang kita perlukan," katanya.
 
www.republika.co.id



AS Hibahkan 24 Pesawat F-16, DPR Khawatir Intervensi

Kamis, 27 Januari 2011 
DPR khawatir dengan rencana TNI yang akan menerima hibah 24 pesawat tempur F16 dari Amerika Serikat. Hibah itu dikhawatirkan bisa menambah ketergantungan Indonesia kepada AS.

DPR juga tidak ingin hibah F16 ini mengganggu rencana pembangunan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) dari dalam negeri.

"Saya berharap Hibah tak mengganggu MEF. Jangan sampai justru menjadi beban. Bisa menjadi beban fiskal keuangan dalam negeri," kata anggota Komisi I DPR Mohammad Syahfan B Sampurno dalam Rapat Kerja dengan Panglima TNI dan Menteri Pertahanan di gedung DPR, Kamis (27/1).

"Jangan sampai dengan iming-iming hibah 24 F16 dengan kualifikasi standar dan tak diimbangi kemampuan malam hari, retrofit-nya (penambahan teknologi baru) juga mahal 1 juta AS per unit. Berarti 24 juta AS sebanyak 24 unit," katanya.

Rencana penerimaan hibah F16 ini terungkap dalam Rapat Kerja dengan Komisi I. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (TNI) Imam Sufaat, rencana penerimaan hibah F16 termasuk dalam pesawat yang dikonservir karena pengurangan anggaran," kata Imam menjelaskan.

Menurut Imam, F16 yang akan dihibahkan ini memiliki masa pakai masih lama. "Pesawat ini masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan," kata Imam.

Menurut Imam, hibah ini gratis. "Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar, harga barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance lebih gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F16," katanya.

Imam menambahkan, anggaran untuk membeli 6 pesawat F16 jenis Block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil hibah 24 pesawat F16 Block 15 dan 25. "Kita memerlukan pesawat ini karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Seluruh wilayah nusantara memang kesulitan," katanya.

Menurut Imam, kesiapan TNI AU saat ini di bawah 30 pesawat tempur per harinya. "Perhitungan kami 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron," ujar Imam. Pengalaman Perang Trikora, kata Imam, Indonesia bisa menggetarkan musuh karena kekuatan laut dan udara kuat, beda ketika Perang Timor Timur.

www.republika.co.id

TNI AL Segera Tambah Tank Amfibi BMP-3f

 TNI AL Segera Tambah Tank Amfibi BMP-3f

Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio mengatakan TNI Angkatan Laut segera menambah armada tempurnya yakni tank amfibi BMP-3F dari Rusia hingga menjadi satu batalyon.
"Akan segera kita tambah armadanya hingga menjadi satu kekuatan penuh, sekitar 54 unit," katanya ketika dikonfirmasi ANTARA usai membuka Lomba Pembinaan Satuan Korps Marinir di Markas Komando Brigif-2 Marinir, Cilandak, Jakarta, Senin.

Thinkstock



Laksamana Madya Marsetio mengemukakan penambahan tank BMP-3F itu akan dilakukan secara bertahap sesuai rencana srategis TNI Angkatan Laut hingga 2024 dalam kerangka pembangunan kekuatan pokok minimum.

"Tentu kita lakukan bertahap pengadaannya, sesuai rencana strategis TNI Angkatan Laut," katanya.
Wakasal menuturkan Korps Marinir merupakan salah satu komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) selain kapal perang, pesawat udara dan pangkalan TNI Angkatan Laut.

"Karena itu, Korps Marinir juga memerlukan perkuatan baik dari segi personel maupun persenjataan," katanya.

"Pembinaan SDM terus dilakukan baik secara fisik maupun jasmani. Persenjataannya pun perlu terus ditingkatkan. Sehingga prajurit-prajurit marinir siap ditempatkan di mana pun, dalam waktu relatif singkat dalam kondisi apapun," ujar Marsetio.

Korps Marinir Indonesia telah mengoperasikan 17 unit tank amfibi BMP-3F dari Rusia sejak 11 Desember 2010. Kendaraan tempur infantri itu bahkan ikut dikerahkan pada operasi pembebasan kapal MV Sinar Kudus di Somalia pada April 2011. BMP-3F merupakan ranpur terkuat yang dimiliki angkatan bersenjata Indonesia dibandingkan PT-76 dan BVP-2 bahkan lebih mematikan dari tank yang dimiliki Angkatan Darat.

Semula Indonesia pada tahap pertama akan membeli 20 unit tank amfibi BMP-3F dengan anggaran Rp445 miliar pada 2009. Namun karena penyusutan nilai kurs rupiah maka dengan anggaran sebesar itu, Indonesia baru bisa membeli 17 unit.

Sumber: www.antaranews.com

Sejarah Mossad, Dinas Intelejen Israel



Haganah merupakan organisasi rahasia Yahudi pertama yang bertugas untuk membunuh orang-orang penting Palestina pada era 30an. Haganah adalah organisasi para-militer Yahudi di kawasan Palestina. Haganah merupakan cikal bakal dari IDF (Israeli Defense Force) modern. Pada awalnya Haganah didukung oleh pemerintah Inggris yang menguasai Palestina pada waktu itu dengan syarat membantu pasukan sekutu melawan pasukan Nazi-Jerman di bawah pimpinan The Dessert Fox Edwin Von Rommel. Namun setelah Jerman berhasil diusir dari Afrika,Haganah mulai dilupakan.

Secara tidak resmi Pemerintah Inggris menjalin kerja sama dengan Haganah dalam memerangi pemberontak Arab. Sayap kanan Haganah,yang dikenal dengan sebutan Irgun tidak menyukai pengekangan yang dilakukan Inggris. Secara diam-diam Irgun melakukan operasi rahasia melawan Inggris. Inggris akhirnya memberlakukan blokade dengan melarang migrasi warga Yahudi menuju Palestina. Semenjak saat itu Haganah memainkan peran intelejen dengan menyelundupkan warga Yahudi ke palestina. Setelah Israel secara resmi mendeklarasikan kemerdekaannya, Haganah diganti dengan IDF. Pengalaman berperang Haganah kelak akan berguna bagi Israel selain itu diperlukan kekuatan intelejen guna mendukung operas-operasi militer. Akhirnya Mossad pun berdiri…..

Secara resmi Mossad berdiri pada tanggal 13 Desember 1949 menyusul deklarasi Negara Israel yang didukung oleh AS dan Dunia Barat.Mossad dibentuk sebagai “Institusi Pusat Koordinasi” atas rekomendasi Reuven Shiloah, sebagai penasehat menteri luar negeri. Reuven berpendapat bahwa harus ada lembaga pusat yang menaungi dinas-dinas intelejen yang sudah ada.

Dinas intelejen Israel yang pertama bernama “Shai” dan didirikan pada tahun 1942.Shai terlibat dalam banyak pembunuhan sebelum negara Israel berdiri. Setelah negara Israel berdiri, jaringan intelejennya dibagi menjadi 3 yaitu : Mossad, Shin Bet (dinas intelejen dalam negeri), dan Aman (intelejen umum).

Perdana Menteri Israel, David Ben Gurion semenjak awal berkata tujuan berdirinya Mossad adalah untuk negara kita yang sejak awal berdiri telah berada dalam ancaman musuh-musuhnya. Mossad merupakan kunci dari kemenangan Israel atas lawan-lawannya. Berbagai kemenangan Israel di medan pertempuran, bukan merupakan kebetulan semata atau merupakan mitos bahwa bangsa Yahudi merupakan ras yang tidak bisa dikalahkan. Kemenangan Israel disebabkan oleh kecanggihan intelejen mereka sehingga dapat mengetahui segala hal tentang musuh.

Sun Tzu pernah berkata: Jika Anda mengenal musuh dan diri sendir,Anda tidak perlu takut sekali pun menghadapi seratus pertempuran.Jika Anda mengenal diri sendiri tapi tidak mengenal musuh maka untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita satu kekalahan.Jika Anda tidak mengenal musuh mau pun diri sendiri maka Anda akan kalah dalam setiap peperangan.

Sumber: http://masendamarapi.blogspot.com

20 Personel Militer yang Menyerbu Markas Bin Laden Tewas dalam Kecelakaan Helikopter

Jet Tempur F-16 Serang dan Tewaskan Sejumlah Penembak Helikopter AS


The Associated Press dalam laporan eksklusifnya menuliskan, lebih dari 20 anggota Navy SEAL dari unit yang menewaskan Osama bin Laden berada di antara mereka hilang dalam kecelakaan helikopter di Afghanistan.

Operator dari Tim SEAL Enam diterbangkan oleh awak Resimen Penerbangan Operasi Khusus 160. Informasi itu didapat AP dari satu mantan pejabat AS. Keduanya berbicara dengan syarat anonim karena keluarga masih sedang diberitahu tentang kehilangan orang yang mereka cintai.

Sebelumnya, kantor berita ini melaporkan sebuah helikopter militer jatuh di Afghanistan timur, menewaskan 31 tentara AS dan tujuh personel operasi khusus pasukan Afghanistan. Seorang pejabat Amerika mengatakan kemungkinan helikopter itu ditembak jatuh, dalam insiden tunggal paling mematikan bagi pasukan Amerika dalam perang selama satu dekade ini.

Taliban menyatakan bahwa mereka menjatuh helikopter dengan api roket. Dikatakan reruntuhan pesawat itu bertebaran di TKP.

NATO membenarkan kecelakaan semalam terjadi dan bahwa hal itu  "adalah akibat  kegiatan musuh di daerah itu." Namun mereka menolak untuk merilis rincianpara korban.
"Kami sedang dalam proses mengakses fakta," kata Angkatan Udara AS Kapten Justin Brockhoff, juru bicara NATO.

Presiden Barack Obama telah menyatakan berduka atas kematian pasukan terbaik AS itu. Ia menyebut kecelakaan berfungsi sebagai pengingat dari "pengorbanan luar biasa" yang dibuat oleh militer AS dan keluarga mereka. Ia mengatakan Amerika berduka bagi "warga  Afghanistan yang tewas bersama tentara kami."

Sumber: www.r

Rafale, Pesawat Tempur Andalan Perancis dan Prospeknya

13127611041905611679

Pesawat Tempur Omnirole Perancis, Rafale (www.asian-defence-tech.blogspot.com)


Pesawat tempur utama AL dan AU Perancis, Rafale, telah membuktikan kehandalannya dalam palagan Libya serta meraih status battle proven. Tentu hal ini membantu Perancis memperbesar peluang pasar Rafale yang hingga kini lesu tanpa satu pun negara di luar Perancis yang bersedia membeli. Berbeda dengan pesaing dekatnya yang lahir beriringan, Eurofighter Typhoon. Di palagan Libya Rafale menunjukkan kemampuannya sebagai pesawat tempur omnirole dengan menjalankan beberapa misi sekaligus baik misi serangan darat maupun superioritas udara terhadap pasukan pemerintah Libya sekaligus patroli udara dalam rangka no fly zone di atas udara Libya.

Pada 19 Maret 2011, Rafale melancarkan serangan darat di dekat Benghazi tatkala ibukota pemberontak tertekan artileri berat Tripoli. Rafale sukses menghancurkan sejumlah sasaran artileri berat tersebut. Pada tanggal 24 Maret 2011, Rafale juga berhasil menghancurkan pesawat jet tempur ringan di Misrata, Soko G-2A Galeb yang merupakan pesawat jet latih buatan eks-Yugoslavia dengan rudal AASM. Sehari sebelumnya Rafale juga melakukan serangan SEAD (Supressed Enemy Air Defense) terhadap lanud Misrata memakai rudal Scalp EG. Di sisi lain Eurofighter Typhoon yang dikerahkan RAF (AU Inggris) belum mampu beroperasi sendiri tanpa berpartner dengan pesawat lain. Pada 12 April 2011, sebuah Typhoon Inggris yang berpasangan dengan Tornado GR4 melancarkan serangan darat terhadap kendaraan lapis baja pemerintah Libya. Typhoon meluncurkan 2 bom cerdas GBU-16 Paveway II dengan sasaran dipindai oleh Tornado GR4 dengan laser targetting pod Litening III. Kasau Inggris berdalih kurangnya pilot Typhoon yang terlatih mengoperasikan pod Litening III.


13127613821878776657
Interior Kokpit Rafale (www.naval-technology.com)


Sejauh ini ada 3 varian Rafale yakni Rafale C dan Rafale M yang berkursi tunggal dan Rafale B yang berkursi ganda (tandem). Versi C dan B dioperasikan AU Perancis sedangkan versi M dioperasikan AL Perancis berbasis kapal induk. Dari awal desain memang Rafale langsung ditujukan untuk penggunaan pangkalan aju darat dan kapal induk yang masing-masing memiliki kesamaan (commonality) yang tinggi sehingga menghemat biaya produksi dan suku cadang. Berbeda dengan Eurofighter yang desain dasarnya menekankan fungsi operasional di landasan darat. Baru dibuat purwarupa operasional kapal induk untuk memenuhi permintaan tender militer India yang juga bersaing langsung dengan Rafale.

Rafale M memiliki struktur airframe dan perangkat roda pendarat yang diperkuat. Dilengkapi pengait kabel pendarat (arrestor hook) dan pengait ketapel roda depan untuk lepas landas. Rencana pembuatan Rafale N sebagai pesawat latih AL berkursi tandem dibatalkan demi penghematan anggaran. Selanjutnya pelatihan pilot AU dan AL Perancis disatukan menggunakan Rafale B. Namun pesawat Rafale B tidak cuma berfungsi sebagai pesawat latih saja karena bisa dikonfigurasi menjadi pesawat peran tempur penuh. AU Perancis merencanakan akuisi versi B akan mencakup 60 persen dari total Rafale AU. Mereka menarik pelajaran penting dari operasi Perang Teluk dan konflik semenanjung Balkan bahwa kopilot memainkan peran penting dalam misi-misi yang sangat berisiko.

Cikal bakal Rafale sama dengan cikal bakal Typhoon, berasal dari kebutuhan pengadaan pesawat tempur multirole baru yang mandiri dari AS dan mampu menanggapi ancaman di masa datang pada pertengahan dekade 1970-an, dalam kondisi ancaman Perang Dingin antara NATO dengan Pakta Warsawa. Untuk menghemat biaya riset dan produksi, Perancis sepakat bekerja sama dengan empat negara lainnya yaitu Inggris, Jerman Barat, Spanyol, dan Italia. Namun akhirnya pada 1985 Perancis mundur dari kerjasama karena berselisih konsep pesawat. Perancis menginginkan desain pesawat tempur swing role berbobot 9 ton yang bisa dioperasikan dari kapal induk. Empat negaranya lainnya dipimpin Inggris memilih desain pesawat tempur yang lebih berat dari 10 ton dengan menekankan pada kemampuan terbang lebih jauh dan lebih tinggi serta mampu memuat senjata lebih banyak. Desain konsorsium Inggris, Jerman Barat, Spanyol, dan Italia melahirkan pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang berbobot 11.150 kg. Desain Perancis kemudian melahirkan Rafale yang diproduksi oleh Dassault Aviation. Rafale versi C berbobot 9.500 kg, versi B berbobot 9.770 kg, dan versi M berobot 10.196 kg. Bersayap delta bermesin ganda serta memiliki sayap canard, Rafale terbang perdana pada 4 Juli 1986 dengan memakai mesin yang sama dengan F-18 Hornet. Menunggu kematangan mesin turbin jet Snecma M88 serta menjaga aspek keamanan ujicoba purwarupa.


13127614941355283919
Keanggunan Fotografi Rafale (www.imageshack.us)


Mulai masuk jajaran AB Perancis sejak 4 Desember 2000. Profil Rafale merupakan pesawat bermesin ganda tapi kompak, konfigurasi sayap berbentuk delat dengan canard di depan, air intake di bawah samping fuselage, menjadikan Rafale sebagai pesawat tempur modern yang paling indah diabadikan fotografer. Menyingkirkan era F-16 namun tetap menampilkan Rafale yang sangat aerodinamis dan lincah bermanuver meski membawa persenjataan penuh berupa empat rudal udara MICA, dua rudal jelajah Scalp EG, dan 3 drop fuel tank. Dengan avionik yang canggih menjadikan Rafale sebagai pesawat tempur omnirole, lebih dari sekedar pesawat tempur multirole.

Namun untuk urusan pangsa pasar ekspor, Rafale kalah dengan pesaing dekatnya Eurofighter Typhoon, F-16, F/A-18 E/F Super Hornet bahkan masih kalah bersaing dengan kelas yang lebih berat F-15 Strike Eagle. Pada September 2007, tender Maroko menyingkirkan Rafale dan memilih membeli F-16 dari AS.

Pada tahun 2011 pemerintahan baru Brasil memutuskan membeli 36 pesawat Super Hornet dari AS padahal pemerintahan sebelumnya lebih menyukai Rafale. Rafale kembali tersingkir oleh pesawat Strike Eagle dari AS dalam tender di Korsel dan Singapura. Rafale masih memiliki kans memenangkan tender 126 pesawat tempur India senilai hampir 10 milyar dollar. Seleksi tender terakhir menyisakan Rafale dengan Typhoon. Sebelumnya Typhoon telah memenangkan tender 72 pesawat tempur di Arab Saudi dan 15 pesawat tempur di Austria.

Kans di India tampaknya cukup besar dibanding Typhoon karena India menginginkan pesawat tempur berbasis kapal induk kelas Vikrant. Rafale telah membuktikan kedigdayaannya dalam pertempuran Libya sebagai pesawat yang berbasis di kapal induk. Sedangkan Typhoon baru membuat purwarupa yang berbasis di kapal induk demi memenagkan tender India. Hambatan utama Rafale adalah keterkaitan antara kelas pesawat dengan harga. Sebagai pesawat kelas menengah dia menempati kelas multirole F-16 namun rentang harga yang sekitar 90 juta dollar mendekati harga pesawat yang lebih berat termasuk Typhoon dan Superhornet ataupun Strike Eagle dengan karakteristik yang relatif sama. Di sisi lain India juga sudah membuat order pesawat 45 Mig-29 K/KUB yang berbasis kapal induk dari Rusia. Sebanyak 11 unit telah diterima India, direncanakan menempati kapal induk Vikramaditya (eks Admiral Gorshkov). Mig-29K bisa dianggap sekelas Typhoon dengan bobot 11 ton. Termasuk tawaran offset pembelian, tampaknya peluang Rafale sangat besar mengalahkan Typhoon kali ini pada tender di India.

Referensi:
1.Combat Aircraft, Juni 2011
2.Angkasa, No.10 Juli 2011
3.Wikipedia

Cakidur

Sumber: kompasiana.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...