Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Korupsi dan Ancaman Runtuhnya NKRI

1315114751319324680
Lambang NKRI


Beberapa bulan yang lalu Negara Sudan Selatan resmi memisahkan diri dari Negara Republik Sudan dan beberapa tahun yang lalu juga Negara Timor Leste resmi memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara beberapa waktu yang lalu juga Papua semakin kencang menyuarakan untuk memisahkan diri dari NKRI. Pertanda apakah ini?

Apa yang terjadi di Republik Sudan memang sedikit berbeda dari Indonesia, di Sudan terlah terjadi perang saudara selama dua puluh tahun antara Sipil dan dan pemerintah, Penindasan kejam Pemerintah Sudan terhadap wilayah Sudan Selatan merajalela dan akhrinya Sudan Selatan melakukan Referendum untuk memisahkan diri, dan saat ini resmi berdiri Negara Sudan Selatan. Apa yang terjadi di Sudan Selatan tidak jauh berbeda dengan Timor Timur sebelum merubah nama negaranya menjadi Timor Leste, Rakyat Timur Timur waktu itu hanya mendapatkan sedikit perhatian dalam pembangunan, banyak desa tertinggal dan kekurangan gizi, akhirnya Timor Timur merasa Pemerintah Republik Indonesia berlaku tidak adil, dan pada akhirnya memisahkan diri menjadi Timor Leste, Apa yang dialami Timor Leste tidak jauh berbeda dengan Papua saat ini, jika Kita mengkaji data statistik, Masyarakat miskin lebih banyak di Papua, Tertingalnya Pendidikan, Desa Tertinggal dan masalah sosial lainnya yang harusnya menjadi petrhatian Pemerintah nyatanya terabaikan, Papua merasa Pemerintah tidak adil dan gaung munculnya Papua Merdeka semakin keras disuarakan.

Coba lihat saja peristiwa-peristiwa di Dunia saat ini, Warga Negara Portugal, Italia, Spanyol dan Yunani baru-baru menyerbu jalan untuk memprotes program penghematan pemerintah mereka. London dilanda kerusuhan dan penjarahan sementara Somalia menghadapi kekeringan, kelaparan dan kemiskinan. Di Israel ada protes biaya hidup yang tinggi. Pemberontakan di Jazirah Arab dan Afrika, Muammar Gaddafi dan pemberontak di Libya, Presiden Bashar Assad dan orang di Suriah dan Presiden Ali Abdullah Saleh dan para Islamis di Yaman dan Amerika Serikat dalam krisis Ekonomi berkepanjangan.

Intinya, sudah banyak Warga Dunia Penghuni Negara-Negara tersebut tidak mempercayai kepemimpinan pemerintah karena kepemimpinan tidak peduli banyak untuk rakya mereka. Apakah ini terjadi di Indonesia? Sangat terjadi, bahkan gaung turunkan Yudhoyono-Boediono terlah ada sejak dua tahun lalu, Masalah Air Bersih yang semakin kering, Pemadaman listrik, pembangunan hanya mengutamakan Jakarta dan Tanah Jawa, Kemiskinan yang terus bertambah, pengemis dan anak jalanan hanya menjadi berita tetapi tidak diurus sesuai dengan Undang-Undang, Gizi disebagian wilayah di Indonesia yang semakin memburuk, Anak-anak yang putus sekolah, tahun 2011 ini ada jutaan alumni SMU yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya pendidikan yang mahal,Korupsi yang merajalela, Koruptor yang sudah ketahuanpun tidak diproses secara hukum , banyak penjahat berdasi yang keluar dari Penjara, untuk masalah-masalah lainnya Anda bisa urutkan dari masalah yang sudah saya sebutkan, saking banyaknya. 

 
13151148481580227413
Index Korupsi Dunia from wikipedia.com


Inflasi, Pengangguran, Perselisihan sipil, Tawuran warga, kesulitan ekonomi, Pelacuran, Jika rumah Anda atau toko Anda kebakaran anda menelpon pemadam kebakaran maka mereka akan kekuaranan air, Jika Anda menelepon polisi, mereka mungkin tidak memiliki cukup bensin di kendaraan mereka untuk perlombaan ke TKP. Inilah yang sebentar lagi akan terjadi di Negara kita.

Maka, Jika kondisi ini semakin parah yang terjadi adalah 33 Provinsi yang ada akan meminta memisahkan diri dari Negara Kesatuan Rupublik Indonesia (NKRI) dengan referendum warga setempat. Saya tidak mencoba untuk menyeryukan pemisahan diri di negara kita, justru saya mencintai Republik ini, saya berharap dari sabang sampai Merauke tetap utuh selamanya.

Jangan terkecoh dengan makna Demokrasi, bukan Negara Otoriter saja yang mengalami ini, banyak Negara Demokratis sudah mengalaminya, inti dari semua ini adalah KETIDAK ADILAN. Seperti halnya saya, banyak Orang Indonesia mungkin memiliki nilai visi kesadaran nasional, masih ada orang-orang yang tulus dan tetap bersama-sama dalam persatuan dan hidup damai dibawah naungan Republik ini. 
 
13151150531509765251
Nasionalisme Untuk NKRI Adalah Harga Mati

 
Ada beberapa Indikator dan inti dari apa yang ingin saya sampaikan dalam Artikel ini, jika kita mampu mengatasi indikatormasalah ini maka kita akan tetap utuh dalam NKRI, tetapi jika tidak, saya memprediksi akan banyak Provinsi selain Papua yang meminta memisahkan diri dari Republik Indonesia yang kita cintai ini, dan Timor Leste sudah melakukan itu. Setelah Anda membaca 10 Indikator ini, Anda boleh berkomentar ada berapa Indikator yang ada Di Indonesia, jika ada 10 maka Indonesia dalam ANCAMAN RUNTUHNYA NKRI. Waspadalah. 
 
1. Perang Saudara / Tawuran Warga : Tawuran warga antar gank, antar kampung, rebutan lahan bisnis, antara Satpol PP dengan PKL misalnya, Masalah ini akan menjadi salah satu Indikator permasalahan pemisahan diri dari NKRI.
2. Kolonialisme : Baik penjajahan Geografis atau Penjajahan Ekonomi, baik Penjajah Asing maupun Penjajahan Pemerintah terhadap rakyatnya, misalnya disebuah daerah ada orang asing yang kaya raya dan menguasai Ekonomi, jika kita melihat hal ini ada di Negara kita, inipun bisa menjadi salah satu Indikator masalah yang dapat menjadi bom waktu.
3. Korupsi : Jika di negara Kita, Kementerian yang paling kuat dalam pemerintahan tanpa bangunan fisik adalah “Departemen Korupsi” di mana tingkat besar penipuan, pemborosan, penyalahgunaan dan penggelapan dana pemerintah adalah modus standar operasi. Kas negara dan kekayaan dikendalikan sebagian besar oleh beberapa pejabat pemerintah (Baik Masa Orde Baru dan Masa Reformasi), kroni dan keluarga mereka. Maka ini salah satu indikatornya.
4. Kebijakan Ekonomi: Negara kita telah mengalami langkah-langkah penghematan banyak atau program penyesuaian struktural di masa lalu namun perekonomian masih menentang semua logika ekonomi yang wajar. Sebaliknya, ada kesenjangan miskin dan kaya, tingkat kemiskinan yang tinggi, inflasi tinggi, tingkat pengangguran tinggi, pendidikan yang buruk dan sistem kesehatan, kelangkaan bensin, pasokan listrik tidak menentu, Pemadaman bergilir oleh PLN, Pajak TOL yang semakin meningkat, Harga Sembako yang semakin tidak terjangkau, kurangnya infrastruktur dan fasilitas publik fungsional sosial.
5. Intervensi Militer : Pemerintah negara Kita pernah didominasi oleh rezim militer atau penguasa mutlak lebih dari warga sipil yang terpilih secara demokratis atau negara Kita masih di bawah cengkeraman militer dengan ancaman kudeta militer. Atau mungkin Militer adalah politisi di seragam. Oh , Indonesia masih seperti itu, bagaiman Soekarno lama memerintah, Soeharto lebih lama lagi dan Sekarang Yudhoyonopun sama, jika yang trerplih orang sipil alamat tidak akan lama karena secara diam-diam dijatuhkan oleh militer dengan lobi Intelijennya.
6. Kebijakan Nasional Liberal : Jika formulasi kebijakan nasional di negara Kita didasarkan pada Sistem Liberal Sekuler, dan setiap janji nasional atau pemilihan didasarkan pada dikotomi regional seperti Utara vs Selatan, atau Timur vs Barat, dan Pemerintah Pusat sebagai Mahakuasa kontrol terhadap daerah atau provinsi di negara itu terutama pada alokasi dana dan sumber daya.
7. Sumber Daya Alam: Sumber daya alam a(misalnya minyak mentah dan gas alam) terkonsentrasi di daerah tertentu di negara Kita. Saat ada daerah lain baik berkeinginan untuk menyabot mereka atau melakukan kontrol terbuka atasnya. Daerah yang meletakkan “telur emas” bagi negara dan ternyata justru orang-orang setempat menjadi orang miskin, pertanda ini adalah Indikator pendukung pemisahan diri.
8. Masyarakat Majemuk : Negara Republik Indonesia memiliki lebih dari Ribuan kelompok etnis dengan bahasa yang berbeda dan budaya. Persatuan nasional dipromosikan dalam namaBhineka Tunggal Ika. Di antara 2 atau 4 kelompok etnis utama tetapi sebuah kelompok etnis ingin mendominasi pemerintah nasional (lahir-ke-aturan nepotisme). Ironisnya, Anda adalah diperlakukan seperti “orang asing” yang tidak diinginkan di negara Anda sendiri jika Anda tinggal atau bekerja di lokasi etnis yang berbeda lain dari Anda di negeri ini.
9. Intoleransi Agama : Antara pemeluk agama tidak saling menghormati, saling terjadi caci maki dan sumpah serapah nama Tuhan, dan sebagainya, maka ini pertanda indikator runtuhnya NKRI.
10. Gerakan separatis : Perasaan Anti-Pemerintah saat ini ada di negara Kita dan ada agitasi untuk tanah air terpisah oleh suatu wilayah atau seperangkat suku. Ada panggilan konferensi terbuka untuk bangsa yang berdaulat untuk menentukan masa depan negara atau kemungkinan referendum untuk memisahkan diri. Sebut saja dulu Ada Gerakan Aceh Merdeka, Organisasi Papua Merdeka, Rakyat Maluku Selatan.


Pembaca yang terhormat, dari 10 Indikator yang saya sebutkan diatas kita bisa mengelompokan tingkat Ancaman runtuhnya NKRI, Anda bisa mengisi di kolom Komentar untuk menentukan berapa Indikator yang ada, Pengelompokannya sebagai berikut :
A. 9-10 : Negara NKRI cepat atau lambat berisiko tinggi akan runtuh
B. 6-8 : Negara NKRI rentan untuk runtuh.
C. 3-5 : Negara NKRI dapat menghindari potensi Keruntuhannya
D. 0-2 : Negara NKRI Alhamdulillah Aman dari upaya pemisahan Diri


13151152831488100595
You Can Stop Corruption from cyberprotes.com
 

Di Indonesia, Indikator yang paling membahayakan adalah Korupsi dan Keadilan Hukum, maka potensi terbesar untuk memecah kesatuan Republik Indonesia adalah Korupsi. Dalam kata lain Koruptor itu tidak Cinta NKRI sama sekali.


Satu-satunya cara untuk mencegah Runtuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah menyelesaikan masalah-masalah dalam 10 Indikator pontesi masalah diatas, atau memilih menjadikan Negara kita menjadi Negara Kerajaan seperti Inggris dan sebagainya meskipun semua masalah yang dihadapi negara. Jika tidak itu akan membuat orang dari suatu negara datang bersama-sama sehingga mereka akan berpikir bagaimana untuk berpikir, memutuskan bagaimana untuk memutuskan, dan bertindak bagaimana untuk bertindak. Sebuah negara dapat melakukan ini dengan merangkul semua Stake Holder untuk mengatasi masalah-masalah dari 10 Indikator diatas untuk menciptakan keputusan yang berkualitas tinggi untuk masa depan bangsa dengan konsensus bersama.

Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi) 
Direktur Rabbani Hamas Institute Indonesia
http://politik.kompasiana.com

Mario Teguh Vs. Bob Sadino, Seberapa Penting Kuliah (Berpendidikan)?


 


 
Bob Sadino: “Mau kaya? berhentilah sekolah atau berhentilah kuliah sekarang juga, and start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan.”

Mario Teguh: “Berhati-hatilah dengan orang yang membanggakan keberhasilannya walaupun dia berpendidikan rendah. Itu tidak boleh dijadikan dalil. Pendidikan itu penting. Buktinya, dengan pendidikan yang sedikit saja, dia bisa berhasil, apalagi jika dia terdidik dengan lebih baik. Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina? Dengan ilmu, segala sesuatu bisa mencapai kualitas tertingginya.”

Anda sepakat dengan siapa???

 
Pastinya ada yang sepakat dengan si pengusaha (Bob Sadino) juga ada yang sepakat dengan si Motivator (Mario Teguh). Kedua pendapat ini menjadi acuan dalam tulisan ini mengingat ke dua orang ini dianggab  orang dalam kategori berhasil dan keduanya memiliki profesi yang berbeda. Tapi dalam konteks ini kita tidak sedang membahas kiprah mereka, tetapi lebih kepada mengkaji pendapat mereka tentang Pendidikan dan hubungannya dengan Keberhasilan.

Berpendidikan tinggi selalu diidentikan dengan berhasil dan ukurannya adalah status sosial yang hebat dan salah satunya indikatornya adalah materi yg cukup atau bahkan materi yang lebih dari ukuran pendapatan orang-orang pada umumnya. Namun sering sekali terjadi hal yang sebaliknya, justru orang yang gagal di bangku sekolahan (kuliah)  malahan berhasil dalam status sosial dan berlimpah secara materi , seperti layaknya Bill Gate dan Pendiri FaceBook, dan banyak juga di Indonesia orang-orang seperti ini, yang berhasil tanpa selesai kuliahnya ataupun tidak sempat mengenyam pendidikan yang tinggi.

Ketika kesuksesan dapat di raih tanpa kuliah, untuk apalagi sebenarnya kuliah (berpendidikan)? Mari sejenak kita defenisikan apa itu pendidikan. Menurut wikipedia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Lebih filosofis lagi Pendidikan adalah Untuk Memerdekakan Manusia (Ki Hadjar Dewantara) maupun  Pendidikan adalah Untuk Memanusiakan Manusia (Driyarkara).

Defenisi pendidikan diatas, secara khusus oleh kedua tokoh pendidikan tersebut, secara tegas menyatakan pendidikan itu tidak mengajarkan anak didik bagaimana mencari kekayaan materi secara baik dan benar tetapi lebih kepada mengajari sang anak didik secara SADAR untuk berguna bagi dirinya dan orang lain bila perlu berguna bagi bangsa dan dunia. Sederhannya pendidikan menjadi alat untuk membentuk karakter anak didik. Perlu kita sadari untuk menjadi terdidik itu tidaklah harus melalui jenjang pendidikan formal , bisa juga melalui jalur non formal, sama halnya ketika memperdebatkan mana duluan Teori atau Praktek, pilihannya tergantung persepsi individu yang akan memutuskan sesuai kebutuhan (cita-cita) dan pengalaman , seorang ilmuwan cenderung berteori dulu sementara seorang pekerja lapangan cenderung Praktek aja langsung layaknya seorang pengusaha  dan kedua-duanya berpotensi untuk Berhasil dan juga  Gagal.

Atas kondisi diatas alangkah lebih berhasilnya seseorang bila ia mampu memadukan antara Teori dan Praktek. Hal ini menegaskan bahkan mengenyam pendidikan di sekolah formal masih perlu, disisi lain sekolah formal dapat menjadi tempat membentuk Karakter anak didik, sesuai identitas ke-Indonesiaan, sehingga nantinya ia tidak menjadi ilmuwan yang anti Tuhan maupun Pengusaha “Hitam”, apalagi menjadi  menjadi Penindas baru atas jabatan yang akan di embannya.

Sudahkah penyelenggara pendidikan Formal kita menjadi tempat bagi pembentukan karakter anak didik, saya pastikan belum saudara-saudara, lihat bagaimana filosis pendidikan kita Tak Tentu Arahnya, tergantung angin BARAT berhembus kemana, kesitulah sistem pendidikan kita Membebek, ganti menteri ganti kebijakan, ironisnya ijazah ASPAL masih banyak yang berseliweran kesana-kesini menawarkan dagangannya kepada pejabat-pejabat yang doyan tradisi feodal, yaitu Gelar kesarjanaan. Uniknya gelar kesarjanaan kemudian menjadi tameng dan topeng bahwa ia adalah seorang yang terdidik.

Mungkin sebentar lagi nasib lulusan SMK sama saja dengan lulusan SMU. Ketika lulusan Perguruan Tinggi (PT) yang sering disebut Pengangguran Terdidik melanda negeri ini, lulusan SMU ogah masuk PT, untuk apa?? Toh selain biaya kuliah mahal, ntar juga pengangguran, kata si Melki anak tetangga sebelah. 

Banyaknya penganguran lulusan PT membuat mendiknas periode 2004-2009 gembar-gembor di TV biar lulusan SLTP masuk SMK saja. Namun apabila hasil-hasil kreativitas anak-nak SMK tidak tersalurkan, satu dekade berikutnya  itu sama saja dengan lulusan SMU, akhirnya karya-karya SMK akan  stagnan karena diterpa gerombolan produk-produk china, orang kemudian rame-rame kuliah tanpa arah, otomatis tingkat pengangguran semakin membengkak. Lihat bagaimana mobil ESEMKA rakitan anak didiknya pak JOKO Wi di Solo, negara setengah hati mengurusnya. Hal ini melengkapi  , bahwa arah pendidikan nasional kita belum menemukan rohnya dan para pengambil kebijakan  masih kebingungan, atau mungkin juga sengaja bingung, demi kepentingan golongannya.

Bila akhirnya institusi-institusi pendidikan gagal mencetak anak didik yang berkarakter, cerdas, berahlak mulia dan berpihak terhadap kepentingan masyarakat. Maka selama itu juga, pendidikan formal akan menjadi bahan yang empuk untuk diperdebatkan oleh para Pengusaha dan Motivator. Padahal pendidikan melalui jalur Formal itu sangat penting, untuk generasi yang akan membela peradaban bangsa ini dikemudian hari.

Kalau begitu profesi yang Hebat dan mulia itu adalah  menjadi Pengusaha dan Motivator dong??Tidak harus, sebab menjadi berguna itu tidak harus apalagi wajib menjadi Pengusaha maupun  Motivator. Bahkan bila negara mampu mensejahterakan rakyatnya melalui diferensiasi kerja maka Pengusaha tidak menjadi pilihan tunggal untuk keluar dari kesulitan ekonomi. Apalagi Motivator, jikalau institusi mampu mencetak anak didik yang cerdas, maka dia tidak butuh para MOTIVATOR.

Jontra Sihite
http://edukasi.kompasiana.com

Gus Dur: Gitu Aja Kok Repot, Mega: No Comment, SBY: Emang Gue Pikirin

 


Dalam perjalanan republik ini kita sudah dipimpin oleh 6 orang presiden dengan gaya dan tipe yang berbeda. Presiden dalam sistem pemerintahan kita merupakan pemimpin tertinggi dalam pemerintahan. Setiap pemimpin pasti memiliki style dan gaya memimpin yang berbeda, juga berbeda dalam menghadapi masalah. Bahkan tidak jarang style itu menjadi ciri khas pemimpin tersebut.

Tiga presiden terakhir kita yang walau sama-sama berasal dari etnis/suku yang sama namun berbeda dalam gaya menghadapi persoalan bangsa. Pertama Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan presiden Indonesia yang keempat. Walau memerintah dengan waktu yang singkat (1999-2001) tapi selama pemerintahannya banyak menimbulkan kontroversi. Namun seperti biasa setiap kritikannya ditanggapi dengan ucapan ringan “gitu aja kok repot”

Gus Dur dikenal presiden RI paling suka berplesiran ke luar negeri. Kondisi dalam negeri yang kacau balau diambang disintegrasi tapi Gus Dur tetap enjoy dengan bepergian keluar negeri. Salah satu kontroversi dari Gus Dur adalah ketika mengajak Israel untuk berdamai dengan Indonesia termasuk rencana membuka hubungan bisnis, rencana yang membuat umat Islam menjadi marah, tentu tanggapan Gus Dur rileks “gitu aja kok repot”.

Lain lagi dengan Megawati, presiden wanita pertama Indonesia ini. Megawati dikenal sebagai presiden paling irit komentar. Karena sikapnya itu banyak yang meragukan kapasitas politiknya, Mega bisa naik presiden hanya karena dia putri dari Presiden Soekarno. Mega tentu berbeda dengan Benazir Bhuto atau Indira Gandhi yang juga putri seorang Pemimpin sebelum meneruskan dinasti orang tuanya.

Polemik pemerintahan Mega adalah penjualan LNG Tangguh dengan harga sangat murah ke China. Penjualan ini merugikan Indonesia secara ekonomi. Termasuk dengan memeberikan door prize berupa realese and discharge kepada obligor hitam yang kebetulan kebannyakan dari etnis Tionghoa, sepertinya Mega punya hubungan dekat dengan pebisnis China. Di cecer masalah penjualan Tangguh, Mega tetap diam membisu. Masa pemerintahan Mega banyak membuat mahasiswa geram karena sikapnya tidak mau berdialog atau berdiskusi dengan mahasiswa, pokoknya no comment lah.

Yang paling menggemaskan adalah pemerintahan “auto pilot” SBY. Banyak yang menilai SBY yang dianggap cerdas dan bersih ternyata memilki kelemahan yaitu tidak memilki keberanian dan visi membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Paling nyata adalah kasus korupsi yang menggurita dari pejabat daerah sampai pejabat negara. Dan seperti biasa SBY hanya jago membuat himbauan untuk tidak korupsi, bahasa krennya Nato (no action talk only). Negeri auto pilot ini beruntung masih bisa survive. Walau diklaim sukses dibidang ekonomi tapi dibidang hukum rapor SBY merah menyala. Dikritik karena lamban dan hanya jago retorika tidak membaut SBY bergeming “emang gue pikirin” begitu kira-kira ucapan SBY.

Kasihan negeri ini koruptor dan mafia telah menyandera negeri ini. Dan semoga presiden 2014 nanti mempunyai visi menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang disegani oleh dunia, bangsa yang lepas dari masa kelam bernama korupsi, bangsa yang mampu mengurus kekayaan alamnya dan bangsa yang mampu membuat bangsa lain menghormati tiap inchi wilayah Indonesia.

Indra Sastrawat
Sumber: http://politik.kompasiana.com

Syariat Islam dan Masyarakat Nonmuslim

Tulisan ini dimuat di Harian Tribun Timur Makassar. Tulisan lama, tapi semoga mencerahkan dan menyegarkan.

Opini penegakan syariat Islam bak bola salju yang terus bergulir dan membesar. Umat Islam yang dulu tak mengenal bahkan anti dengan syariat Islam, kini tampak mulai menerima dan memahami syariat Islam yang sesungguhnya. Ini dibuktikan melalui hasil survey Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) mengatkan bahwa, 52 persen rakyat Indonesia menuntut Penerapan Syariat Islam. Hal ini sejalan dengan hasil survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga. Hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002 (Majalah Tempo, edisi 23-29 Desember 2002). Hasil survei menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Berarti peningkatannya cukup signifikan, yakni sekitar 10%.Namun disatu sisi, ketika seruan penerapan syariat Islam semakin menggema, pencitraburukan syariat Islam dan para pejuangnya pun semakin membahana.

Salah satu stigmatisasi negatif yang sering dialamatkan kepada syariat Islam salah satunya adalah bahwa ketika syariat Islam diterapkan, maka akan memberangus pluralitas dan orang non muslim. Mereka akan dipaksa untuk masuk Islam, gereja akan ditutup, mereka tidak bisa makan babi dan berbagai kekhawatiran lainnya. Namun apakah memang seperti itu? Bernarkah syariat Islam adalah sistem tirani minoritas yang tidak mengakui pluralitas?

Semua itu adalah fitnah dengan alasan yang tak argumentatif. Syariat Islam sendiri menjamin bahwa kekhawatiran diatas tidak akan terjadi, karena syariat tidak akan memaksa mereka masuk Islam dan melakukan semua yang dikhawatirkan itu. Karena prinsip dasar dakwah Islam kepada non-muslim adalah tidak ada paksaan dalan beragama (memeluk Islam) seperti yang tertuang dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 256.

Syariat Islam adalah seperangkat aturan yang mengakui eksistensi pluralitas (keberagaman) dan tidak menafikkan keberadaan agama diluar Islam. Karena itu Islam pun mempunyai aturan, bagaimana menyikapi pluralitas termasuk didalamnya orang non-muslim. Dalam kehidupan yang menyangkut wilayah pribadi, syariat Islam hanya diberlakukan kepada muslim. Sementara non-muslim diberikan kebebasan untuk menjalankan aturan agamanya sendiri.

Adapun dalam kehidupan umum, muslim dan non-muslim, tanpa terkecuali harus mengikuti aturan syariat Islam. Ini bukan sebuah konsep ketidakadilan, karena syariat Islam adalah ramatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) bukan hanya rahmat untuk orang Islam semata.

Contohnya larang riba. Pelarangan diterapkannya sistem ekonomi riba, jelas tidak Cuma bermanfaat bagi kaum muslimin saja. Karena sistem riba yang merupakan tulang punggung ekonomi kapitalis, akan mencelakakan seluruh umat manusia, baik muslim maupun non-muslim. Seruan Islam untuk meninggalkan sistem ekonomi kapitalis yang berbasis riba adalah seruan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Telah terbukti sistem kapitalis saat ini telah membawa dunia kepada jurang kebangkrutan.

Contoh lain misalnya, syariat Islam tidak membenarkan jika pengelolaan sektor pertambangan diberikan kepada individu apalagi perusahaan asing. Namun syariat Islam mewajibkan pengelolaan pertambangan diserahkan kepada negara dan keuntungannya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Konsep cemerlang seperti ini jelas tidak hanya membawa kemakmuran kepada masyarakat muslim namun juga akan mensejahterakan non-muslim.

Ada anggapan bahwa ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kawalan institusi negara maka orang non muslim akan menjadi warga kelas dua. Ini adalah anggapan yang tidak benar. Dalam pandangan syariat Islam, muslim dan non-muslim diperlakukan sama sebagai warga negara. Bahkan secara spesifik apa yang diwajibkan kepada muslim tidak diwajibkan kepada non-muslim, seperti membayar zakat. Dalam kehidupan publik, warga non-muslim akan mendapatkan hak yang sama dengan masyarakat muslim. Muslim dan non-muslim sama-sama berhak mendapatkan perlindungan keamanan, pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis. Jika seorang muslim tidak boleh dicederai jiwa dan kehormatannya serta diambil hartanya tanpa alasan yang jelas, maka begitu juga non-muslim.

Kampanye hitam, yang dialamatkan kepada syariat Islam dan khilafah (negara Islam) dibantah oleh TW Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam. Ia membantah propaganda busuk yang selama ini dilontarkan terhadap syariat Islam tentang perlakukan diskriminatif terhadap non-muslim di negara khilafah. Selain oleh TW Arnold, kampanye hitam terhadap syariat Islam pun dibantah oleh fakta sejarah.

Di Yunani misalnya, sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi khilafah yang ada dibagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan kepada mereka, perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.

Pada saat penaklukan Kota Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II pada tahun 1453, maka Sultan melarang keras segala penindasan terhadap kaum non-muslim. Maka dikeluarkanlah sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada uskup agung yangbaru terpilih. Sang Uskup juga diberikan kesempatan untuk meminta perhatian pemerintahan Islam untuk menyikapi para gubernur yang bertindak tidak adil terhadap warga non-muslim.

Jaminan keamanan pun wajib diberikan kepada orang non-muslim. Sejarah mencatat pada masa daulah khilafah masih Berjaya, pemerintahan Islam pada saat itu memberikan sertifikat tanah (tahun 925 H/1519 M) kepada pengungsi Yahudi yang diusir dari Spanyol setelah runtuhnya pemerintahan Islam disana. Terdapat pula surat jaminan keamanan dan perlindungan kepada Raja Swedia (30 Jumadil Awal 1121 H/7 Agustus 1709 M). Selain itu Raja Prancis juga pernah dilindungi oleh Khalifah Sulaiman al-Qanuni ketika diancam oleh musuh-musuhnya.

Paparan diatas adalah beberapa fakta sejarah yang membuktikan keadilan syariat Islam dalam memperlakukan orang non-muslim. Karena begitu adilnya syariat Islam memperlakukan kaum muslim dan non-muslim, maka kaum Kristen koptik malah membantu pasukan Amru bin al-‘Ash atas pembebasan Mesir atas pemerintahan Bizantium yang merupakan pemerintahan Kristen. Kaum Kristen Koptik memilih membantu pemerintahan Islam untuk menaklukkan saudaranya sendiri (kaum Kristen Bizantium), karena mereka telah merasakan kenikmatan dan kemakmuran hidup dibawah naungan syariat Islam.

Karena bukti keadilan Islamlah yang mambuat kaum Yahudi Spanyol memilih tinggal di wilayah negara Islam setelah inkuisisi oleh Ratu Isabella. Hal yang sama juga membuat orang-orang Rusia memilih tinggal di wilayah negara Islam pasca Revolusi Bolchevik. Namun sayang fakta sejarah ini seolah dengan sengaja dipendam untuk tetap mengokohkan stigmatisasi negatif terhadap syariat Islam.

Timbulnya kecemasan dan ketakutan non-muslim terhadap penegakan syariat Islam adalah karena ketidaktahuan atau kesalahpahaman mereka terhadap syariat Islam. Semua ini terjadi karena tidak ada yang menjelaskan syariat Islam dengan penjelasan yang gamblang dan tegas. Atau bisa jadi karena adanya kampanye buruk (black campaign) terhadap syariat Islam. Diperparah lagi pola tingkah sebagian media yang selalu mengidentikkan syariat Islam dengan aturan yang bersifat “barbarian” penuh kekerasan dan tidak manusiawi. Selain itu para pengemban dakwah yang ikhlas memperjuangkan tegaknya syariat Islam, justru diidentikkan dengan pelaku teroris. Padahal pejuang penegak syariat Islam adalah mereka yang selalu berusaha menyelamatkan Indonesia dari hegemoni sistem kapitalis,tak pernah lelah mengoreksi kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat, menyeru pemerintah untuk melepaskan diri dari intervensi asing, dan menghindarkan negeri ini dari disintergrasi bangsa. Mereka bukan teroris tetapi sosok ideal penyelamat bangsa.


Adi Wijaya
http://hukum.kompasiana.com



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...